Menyakiti Anak Yatim
Allah Swt berfirman, "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim." (QS. al-Ma'un:1-2)
Satu masalah sosial yang ada dalam sebuah masyarakat terkait dengan keberadaan anak-anak yatim yang kehilangan orang yang melindungi dan bertanggung jawab atas mereka. Anak-anak yatim ini biasanya kekurangan kasih sayang dan bila ini tidak ditutupi, maka mereka akan menjadi anak yang tidak sehat secara psikis dan dalam banyak kasus menjadi orang yang hatinya keras bahkan berbahaya.[1]Anak-anak seperti ini pada akhirnya bukan saja telah kehilangan kebahagiaan, tapi akan menjadi masalah bagi masyarakat. Al-Quran memperingatkan orang-orang yang tidak memperhatikan perasaan manusia dan tidak peduli dengan anak-anak yatim.
Dalam surat al-Ma'un, Allah Swt menggunakan gaya bahasa yang keras terhadap orang-orang yang menghardik anak yatim dan menyebut mereka sebagai pendusta agama di Hari Kiamat. Pada dasarnya, dari pentakbiran al-Quran ini dapat dipahami bahwa prinsip kebenaran agama bukan mengucapkan sesuatu, tapi hakikat iman itu adalah perubahan dalam diri manusia yang kemudian mengajaknya untuk berbuat kebaikan. Dengan demikian, seseorang yang menghardik anak yatim itu sejatinya tidak ada hakikat iman dalam dirinya, bahkan Allah Swt menyebut orang seperti itu dengan pendusta agama.[2]
Mengenai anak-anak yatim, ada poin penting lain yang menjadi sorotan dalam surat al-Ma'un ini, dimana Allah Swt dalam surat ini mengajak manusia untuk memperhatikan sisi kejiwaan manusia dan bagaimana bersikap secara baik dengan anak yatim. Karena masalah dan kesulitan yang dihadapi anak yatim adalah kehilangan kasih sayang dan makanan ruh, sementara gizi dan makanan materinya berada pada tahapan selanjutnya.[3]
Dalam surat ad-Dhuha, Allah Swt setelah menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai anak yatim sejak kecil dan memerintahkan, "Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang."[4]
Allah Swt juga dalam surat al-Fajr ketika menyebut karakter manusia yang tidak baik, maka yang disebutkan paling pertama adalah tidak memuliakan anak yatim. "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim."[5]
Mencermati ayat ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa Allah Swt meminta kita untuk menghormati anak yatim. Karena di balik penghormatan ini juga tersimpan perbuatan baik dan juga memberi makan mereka,[6] termasuk masalah materi dan ekonomi mereka. Dalam masyarakat modern saat ini, umat Islam tidak boleh merasa cukup dengan aksi individu, tapi perlu memobilisasi potensi yang dimiliki umat Islam untuk menciptakan anak-anak yatim ini sebagai manusia yang layak bagi masyarakat lewat program yang dibuat dengan baik baik untuk sektor ekonomi, budaya maupun pendidikan. Tentu saja masalah ini membutuhkan kerjasama umat Islam.[7] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar